Tiongkok Habisi 20 Mata-mata CIA
Dalam Operasi Kontra Intelijen
Washington, (LaskarQQ). Tiongkok membunuh atau memenjarakan setidaknya 20 orang mata-mata yang bekerja untuk Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) dari tahun 2010 sampai 2012, mengganggu operasi intelijen AS besar-besaran yang asal usulnya belum diketahui, demikian dilaporkan surat kabar AS, The New York Times (NYT), Minggu (21/5).
Penyidik masih berbeda pendapatnya apakah ada mata-mata CIA yang mengkhianati sumbernya atau apakah pemerintah Tiongkok telah meretas sistem komunikasi rahasia CIA, surat kabar tersebut melaporkan mengutip mantan dan pejabat AS yang aktif.
NYT menambahkan, Tiongkok membunuh setidaknya puluhan orang yang memberikan informasi kepada CIA dari tahun 2010 sampai 2012, membongkar jaringan yang dibuat bertahun-tahun dalam pembuatannya.
Satu ditembak dan tewas di depan sebuah gedung pemerintah di Tiongkok, tiga pejabat mengatakan kepada NYT, dan menyatakan bahwa ini dirancang sebagai pesan kepada orang lain bagaimana dampak jika bekerja sama dengan Washington.
Penerobosan intelejen tersebut dianggap sangat merusak, dengan jumlah aset yang hilang menandingi mereka yang berada di Uni Soviet dan Rusia yang tewas setelah informasi dikirimkan ke Moskow oleh mata-mata Aldrich Ames dan Robert Hanssen, menurut laporan tersebut.
Ames aktif sebagai mata-mata pada tahun 1980-an dan Hanssen dari tahun 1979 sampai 2001.
CIA menolak berkomentar saat ditanya tentang laporan NYT tersebut.
Operasi kontra intelijen Tiongkok tersebut mulai diketahui pada tahun 2010, ketika agen mata-mata Amerika mendapatkan informasi berkualitas tinggi tentang pemerintah Tiongkok dari sumber-sumber dalam birokrasi, termasuk warga Tiongkok yang terganggu oleh korupsi pemerintah Beijing.
Informasi tersebut didapatkan NYT dari empat mantan pejabat AS.
Namun informasi tersebut mulai berhenti pada akhir tahun dan informan mulai menghilang pada awal tahun 2011, menurut laporan tersebut.
Karena semakin banyak sumber yang terbunuh, Biro Investigasi Federal (FBI) dan CIA memulai penyelidikan bersama mengenai penerobosan itu, memeriksa semua operasi yang dijalankan di Beijing dan setiap pegawai Kedutaan Besar AS di sana.
Investigasi tersebut pada akhirnya berpusat pada seorang mantan agen CIA yang bekerja di sebuah divisi yang mengawasi Tiongkok, lapor surat kabar itu, namun tidak ada cukup bukti untuk menangkapnya.
Beberapa penyidik percaya bahwa beberapa warga Tiongkok telah meretas sistem komunikasi rahasia CIA.
Sementara yang lainnya berpendapat bahwa penerobosan data intellijen tersebut merupakan hasil dari kecerobohan mata-mata AS, termasuk melakukan perjalanan dengan rute yang sama ke titik pertemuan yang sama atau bertemu sumber di restoran tempat orang Tiongkok menanam perangkat pendengar, lapor surat kabar tersebut.
Pada tahun 2013, intelijen AS menyimpulkan bahwa kemampuan Tiongkok untuk mengidentifikasi agen intelijen AS telah berkurang, lapor surat kabar tersebut, dan CIA telah berusaha membangun kembali jaringan mata-mata di sana.




No comments:
Post a Comment